Bangga! 2 Srikandi Indonesia Kibarkan Bendera Merah Putih di Gunung Tertinggi Dunia
Edukasi Sport dan Kesehatan

Bangga! 2 Srikandi Indonesia Kibarkan Bendera Merah Putih di Gunung Tertinggi Dunia

Mungkin mendaki gunung adalah hobi dan hanya bisa dilakukan oleh laki – laki, tapi tidak bagi dua srikandi ini Fransiska Dimitri Inkirawang (23) dan Mathilda Dwi Lestari (23). Mereka berdua membuktikan gender tak menghalangi mereka untuk mengharumkan nama bangsa. Dua Srikandi muda ini berhasil menyelesaikan pendakian lima gunung tertinggi dunia.

“Yang pasti bangga banget bisa bawa bendera Merah-Putih dan BRI di puncak gunung tertinggi di dunia. Sekaligus menjadi perempuan pertama di Indonesia yang mendaki tujuh gunung tertinggi di dunia,” kata Mathilda Dwi Lestari yang akrab disapa Hilda pada jumpa pers The Women of Indonesia Seven Summit Expedition, Gedung BRI I, Selasa (24/1/2016), seperti dilansir Kompas.com.

Kedua perempuan muda ini tercatat masih berstatus mahasiswi Universitas Katolik Parahyangan (UNPAR), sekaligus anggota dari Mahitala Unpar.

Lima gunung tertinggi di dunia yakni Gunung Carstenz di Papua, Gunung Elbrus di Rusia, Gunung Kilimanjaro di Tanzania, Gunung Aconcagua di Argentina, dan terakhir Gunung Vinson Massif di Antartika telah mereka daki.

“Tidak menyangka bisa sampai begini. Udah gunung kelima dan masih ada dua gunung lagi, butuh dukungan dari masyarakat Indonesia,” kata Hilda.

Sebelumnya Hilda dan Fransiska harus berpisah dengan rekannya Carolina digunung Aconcagua di Argentina.

“Pastinya sedih, saat ia (Carolina) harus balik kanan dan kita lanjut terus karena dia sakit, seperti ada yang tertinggal. Sempat panik juga saat melihat teman invalid di depan kita,” cerita Hilda. Carolina terserang Acute Mountain Sickness (AMS).

Masih ada dua gunung lagi yang harus didaki oleh Hilda dan Fransiska. Dua gunung terakhir adalah Gunung Everest di Nepal dan Gunung Denali di Amerika Utara, yang rencananya akan didaki pada April dan Juni tahun ini.

“Itu musim terbaik untuk mendaki masing-masing gunung. Persiapan kurang lebih sama dan pastinya persiapan mental karena dua gunung ini adalah yang tersulit. Juga alat, karena semakin sulit butuh semakin banyak alat dan doa,” kata Hilda.

Editor : Nopa Gunawan

Komentar Anda
Advertisement
Scroll Up